Mei
17

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga
Uncategorized

Bacaan: Kisah Para Rasul 1:1-11

Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga merupakan satu rangkaian peristiwa yang harus kita pahami secara keseluruhan. Kematian-Nya di kayu salib adalah untuk mengalahkan iblis; kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Ia telah mengalahkan segala musuh, termasuk musuh yang terakhir dibinasakan, yaitu maut; sedangkan kenaikan-Nya ke sorga membuktikan bahwa Ia telah mengalahkan dunia, karena dunia tidak dapat menahan-Nya untuk kembali ke sorga. Jadi, peristiwa ini merupakan suatu kemenangan yang luar biasa dari Tuhan kita, Yesus Kristus.

Selama 40 hari Yesus membuktikan kepada para murid-Nya dan semua orang yang menyaksikan penyaliban-Nya (bahkan mungkin juga orang-orang yang telah menyalibkan Dia) bahwa Ia telah bangkit dari kematian dan hidup untuk selamanya. Oleh karena itu, pada Kisah 3:13-15, Petrus mewakili para rasul untuk berkata, “... tentang hal itu kami adalah saksi.”

Kita diingatkan, bahwa kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah sebagai terang dunia (Yohanes 8:12). Memang sesungguhnya Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Menurut Mazmur 84:12, terang-Nya digambarkan seperti terang dari matahari. Bagi manusia, keberadaan matahari menunjukkan adanya kehidupan, sebab tanpanya manusia tidak dapat beraktivitas.

Bila Yesus sebagai terang kemudian dikaitkan dengan tema Paskah, “Kristus adalah benar”, maka di dalam terang pasti ada kebenaran, seperti yang Matius 13:43 katakan, “... orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari ...” Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia yang gelap ini, sesungguhnya memberi terang yang besar (pasal 4:15-16). Namun sangat disayangkan, manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat tidak nampak (Yohanes 3:19-21). Iblis tidak senang, apabila dunia yang telah dikuasai kegelapan ini mendapatkan terang dari pribadi Tuhan Yesus, sehingga melalui orang-orang yang menyukai kegelapan itulah, Yesus disalibkan. Alam pun menunjukkan, bahwa pada saat Ia tergantung di kayu salib, terjadi kegelapan di sekitar tempat itu, dari jam 12 siang sampai jam 3 (Lukas 23:44-45a). Hal ini telah dinubuatkan oleh Amos 8:9-10, bahwa kematian Yesus sebagai Anak Laki-laki Tunggal Bapa bagaikan matahari yang terbenam di siang hari. Tiga hari kemudian Ia bangkit ketika masih pagi-pagi benar, yaitu saat matahari terbit (Lukas 23:55 – 24:7). Oleh sebab itu, di dalam Wahyu 22:16 Ia bersaksi, “... Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.” Bintang timur adalah bintang fajar, bintang yang terbit di pagi hari. Jika sebelumnya kematian Yesus bagaikan matahari yang terbenam, maka kebangkitan-Nya bagaikan matahari yang terbit untuk bersinar kembali dan tidak akan pernah terbenam lagi, karena Dia bukan saja bangkit, melainkan hidup untuk selamanya (Roma 6:9-10).

Yohanes 5:26 mengatakan, bahwa seperti Bapa memiliki hidup, Anak-Nya juga memiliki hidup, sehingga bila kita bersekutu dengan tubuh dan darah Yesus melalui perjamuan kudus, kita pasti akan hidup (pasal 6:57). Yesus pun berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup” (pasal 11:25-26) sehingga kita yang percaya kepada-Nya pasti memperoleh hidup, walaupun sudah mati, sedangkan yang masih hidup tidak akan mati selama-lamanya. Ia juga berkata, “Akulah jalan dan kebenaran, dan hidup”, sehingga hanya melalui Dialah, kita dapat datang kepada Bapa; dan karena Dia hidup, kitapun hidup (ayat 19).

Walaupun Tuhan Yesus telah terangkat ke sorga dan meninggalkan kita, Ia tidak meninggalkan kita seorang diri atau yatim piatu (Yohanes 14:18), sebab terang-Nya selalu bersinar seperti matahari yang tidak akan pernah terbenam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu bersedih, gelisah, atau gentar hati, karena Dia meninggalkan damai sejahtera dan berjanji akan datang kembali kepada kita (ayat 27-28). Sehingga, pada saat Ia berkata, “Ya, Aku akan datang segera!” kita dapat menjawabnya, “Amin, datanglah Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20). zha
 



Post a comment