|
|
01 Mei 2009
Menjadi milik Kristus hendaknya selalu menjadi kerinduan dari tiap-tiap pribadi kita karena Kristus bukan saja mengasihi jemaat tetapi lebih dari pada itu, seperti yang diucapkan Rasul Paulus, bahwa Kristus telah mengasihi aku dan telah menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Menjadi milik Kristus berarti menjadi istri-Nya, sehingga istri adalah milik dari suami dan suami adalah milik dari istri (1 Korintus 7:2). Selain itu, istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi suaminya dan sebaliknya (ayat 4). Berarti tubuh kita sudah menjadi hak dari Suami, yaitu Tuhan Yesus.
|
|
24 April 2009
Apabila kita mau mengenal Dia yang akan datang nanti, sebaiknya mulai sekarang kita mengenal Kristus, yang telah mengasihi jemaat dan yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Dan supaya tubuh kita kelak menjadi sama seperti Dia dan dapat melihat Dia dalam keadaan yang sebenarnya, kita harus mempersembahkan tubuh kepada Tuhan sebagai korban yang hidup – bukan korban yang mati, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1), yaitu dengan beribadah kepada-Nya. Dengan demikian kita telah menyatu dengan Dia dan menjadi milik Kristus yang disertai tanda-tanda pada tubuh kita ini (Galatia 6:17).
|
|
17 April 2009
Sebagai Kepala, Kristus telah mengasihi jemaat dengan menyerahkan
diri-Nya untuk menderita, dari kepala, tangan, kaki, maupun
punggung-Nya, sampai menyerahkan nyawa-Nya dengan mati di kayu salib.
Jika Kristus sebagai Mempelai Pria telah menyerahkan diri dan
nyawa-Nya, bagaimanakah sikap kita sebagai jemaat yang dikasihi-Nya?
Maukah kita menyatu dalam kasih-Nya dan menyerahkan diri serta nyawa
kita kepada-Nya?
|
|
10 April 2009
Kebaktian Jumat Agung
Karena kasih, Kristus telah menyerahkan diri-Nya atau nyawa-Nya bagi jemaat (1 Yohanes 3:16). Inilah bukti kasih Kristus sebagai Suami terhadap istri-Nya sendiri. Pengorbanan-Nya tidak dilakukan dengan terpaksa, walaupun sebelum itu Ia harus mengalami siksaan yang sedemikian rupa.
|
|