Nop
29

Pintu yang Sempit

Pintu yang Sempit
Uncategorized
Mungkin kita sudah sering mendengar kalimat: "Dalam dunia ada dua jalan, ada yang lebar ada juga yang sempit. Jika memilih yang lebar menuju kepada kebinasaan, namun yang sempit menuju kepada kehidupan atau keselamatan.” Melalui berkat Firman Tuhan kali ini, kita akan mendalami bagaimana sebenarnya pengertian antara pintu yang lebar dan yang sempit itu. Bagaimanakah caranya agar kita dapat masuk melalui pintu yang sesak atau sempit itu.

Dalam Matius 7:12-14 Tuhan memperingatkan supaya kita berusaha masuk melalui pintu yang sesak atau sempit, yang menuju kepada kehidupan. Ini benar-benar harus kita waspadai, jangan sampai disadari atau tidak kita terseret arus dunia ini sehingga bukannya masuk melalui pintu yang sempit, tetapi justru masuk melalui pintu yang lebar. Dunia sekarang ini menyediakan segala sesuatu untuk mendukung kehidupan dalam dosa. Seakan-akan itu memperlebar pintu yang membawa demikian banyak orang menuju kepada kebinasaan. Sebaliknya semakin mempersempit pintu menuju Kerajaan Sorga, pintu keselamatan. Oleh sebab itu supaya kita dapat masuk melalui pintu yang sempit, kita harus mau "menjadi kecil”. Berbeda dengan kehidupan dunia, yang semakin membuat orang lebih "besar”, semakin angkuh dan sombong, bahkan semakin "besar” dalam berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan dunia ini, menghabiskan waktunya untuk bekerja demi kekayaan duniawi dan mengabaikan bahkan melupakan ibadah dan pelayanan.

Dalam surat 1 Yohanes 2:15-17 diingatkan, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Jika kita mengasihi dunia maka sebenarnya kita sudah berjalan melalui pintu yang lebar, yang menuju pada kebinasaan. Tetapi orang yang melakukan kehendak Allah yaitu melakukan Firman Allah pasti hidup.

Apa yang ada dalam dunia? Pertama, keinginan daging. Manusia lebih menuruti keinginan daging, memuaskan hawa nafsunya dan hidup dalam kenajisan. Kedua, keinginan mata. Keindahan dunia demikian memikat mata, sehingga mengalihkan pandangan dari yang rohani kepada dunia. Ketiga, keangkuhan hidup. Keangkuhan hidup merupakan tantangan yang paling berat. Rendah hati, tidak sombong, mau saling mengasihi demikian sulit untuk dilakukan. Tiga hal yang ada di dunia ini bukanlah berasal dari Bapa, dan orang yang melakukannya disadari atau tidak sedang berjalan melalui pintu yang lebar, dan akhirnya binasa.

Gereja Tuhan harus lebih berwaspada, iblis berusaha membuka pintu lebarnya dalam gereja. Bagaimana ini terjadi? Banyak orang Kristen melaksanakan ibadah hanya untuk berkat-berkat secara jasmani, bukan yang rohani. Melaksanakan ibadah, tapi tidak mau rendah hati, tidak mau menerima koreksi Firman Tuhan, tidak mau saling mengasihi dan memaafkan. Sehingga disadari atau tidak, seolah masuk dalam pintu yang lebar melalui "gereja”, menuju kebinasaan melalui "gereja”.

Untuk masuk pintu yang sempit itu kita harus berjuang bahkan mau menjadi kecil bagaikan iota. Dalam Matius 5:17-18 dikatakan satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi atau digenapi. Yesus adalah satu-satunya yang sanggup menggenapi hukum Taurat. Menggenapi bukan dalam arti melakukan tetapi menanggung kutuk karena pelanggaran hukum Taurat seperti tertulis dalam Galatia 3:13: "… Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Dalam Filipi 2:5-8, Yesus memberikan teladan rela menjadi iota. Baiklah kita juga mau meneladani Yesus, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang sekalipun Dia adalah Allah rela mengosongkan diri-Nya, menjadi Manusia dan Hamba, bahkan taat sampai mati di kayu salib bagaikan sekecil titik.

Sebagai mempelai perempuan Tuhan, harus masuk melalui pintu yang sempit. Bagaikan domba-domba yang masuk ke kandang harus melalui pintu. Kita akan perdalam lagi pengertian ini. Jika kita lihat dalam susunan Tabernakel, juga terdapat tiga pintu, pertama pintu gerbang yang memisahkan dengan daerah luar Tabernakel. Ini mempunyai pengertian kita mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Secara umum kita yang percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat disebut sebagai orang Kristen.

Kedua, pintu kemah yang memisahkan antara daerah halaman dengan ruangan suci. Pintu ini mempunyai pengertian kita menerima baptisan Roh Kudus, karena Yesus adalah Pembaptis dengan Roh. Melalui pintu kemah ini, kita bukan lagi hanya disebut sebagai "orang Kristen” tetapi adalah sebagai jemaat. Mengapa demikian, karena dalam ruangan suci, kita harus memperhatikan ada tiga alat; pelita emas, meja roti dan mezbah dupa. Tiga alat ini memberikan pengertian kita harus memperhatikan tiga ibadah pokok; Kebaktian Umum, Kebaktian Pendalaman Alkitab dan Kebaktian Doa.

Jangan kita hanya bangga disebut sebagai orang Kristen bagaikan dalam suasana di halaman Tabernakel, tanpa memperhatikan waktu-waktu ibadah. Kita harus berjuang masuk pintu yang sempit, yaitu mau beribadah dalam suasana ruangan suci. Dikatakan berjuang karena memang untuk melakukannya memerlukan pergumulan dan pengorbanan.

Alat pertama dalam ruangan suci adalah pelita emas. Ini artinya kita mau masuk dalam persekutuan ibadah, dalam suasana terang. Kita melaksanakan ibadah atau yang biasa disebut Kebaktian Umum.

Berikutnya meja roti, di mana terdapat dua belas roti yang terbagi menjadi dua tumpukan, masing-masing tumpukan terdiri dari enam roti dan di atasnya terdapat cawan anggur. Angka dua belas merupakan angka persekutuan. Artinya, kita melaksanakan ibadah persekutuan dalam Firman Allah dan perjamuan kudus atau biasa disebut ibadah pendalaman Alkitab. Roti pada meja roti ini adalah roti tanpa ragi. Bisa dibayangkan bagaimana roti tanpa ragi, merupakan roti yang keras. Demikian juga seringkali kita merasa bahwa perkataan atau pemberitaan Firman Allah dalam pengajaran terasa keras sekali. Tuhan Yesus sendiri pada saat memberikan pengajaran tentang roti hidup di Yohanes 6:59-66, banyak orang bersungut-sungut dan menolak serta mengatakan: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Padahal sebelumnya, pada saat Tuhan Yesus mengadakan mujizat roti jasmani demikian banyak orang yang mengikuti Yesus. Namun setelah Tuhan Yesus memberikan roti yang rohani atau berkat rohani banyak yang menolaknya. Bukankah demikian yang sering terjadi pada gereja Tuhan sekarang. Beribadah hanya untuk mencari berkat yang jasmani, tetapi menolak berkat yang rohani. Jika Firman dalam bentuk pengajaran yang keras bagaikan roti tanpa ragi disampaikan, maka segera bersungut-sungut dan menolaknya dan akhirnya mengundurkan diri dari persekutuan pengajaran.

Mungkin orang yang menolak atau mengundurkan diri dari persekutuan pengajaran atau dalam Tabernakel adalah persekutuan dalam "meja roti”, akan berkata: "saya tetap orang Kristen, saya tetap setia ke gereja.” Namun sebenarnya disadari atau tidak, itu sama dengan keluar dari "pintu yang sempit” atau kalau dalam Tabernakel sama dengan keluar dari ruangan suci melewati pintu kemah. Jadi, masuk melalui pintu sempit ke dalam ruangan suci berarti harus mau menerima pengajaran.

Tidak cukup sampai di sini, berjemaah atau sebagai jemaat juga harus memperhatikan adanya mezbah dupa, yaitu persekutuan dalam doa. Doa ini pun bagaikan masuk pintu sempit, memerlukan perjuangan. Bahkan murid-murid Yesus pun tidak sanggup berjaga dalam doa pada saat mereka berdoa di Taman Getsemani bersama Tuhan Yesus. Namun kita patut bersyukur pada Tuhan, karena seperti tertulis dalam Roma 8:24-28, Roh Kudus membantu kita dalam segala kelemahan kita. Roh Kudus berdoa bagi kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Karena seringkali hati kita berkehendak namun tubuh jasmani kita penuh kelemahan. Dan yang luar biasa, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.

Jadi, jika kita mau masuk melalui pintu yang sempit, ada tiga ibadah pokok yang harus kita perhatikan yaitu: Kebaktian Umum (persekutuan dalam pelita emas), Kebaktian Pendalaman Alkitab (persekutuan dalam meja roti) dan Kebaktian Doa (persekutuan dalam mezbah dupa).

Pintu ketiga dalam Tabernakel adalah pintu tirai yang mempunyai pengertian kita harus "menyalibkan daging”. Ini merupakan pintu paling berat untuk dilalui, yaitu "kedagingan” kita. Karena kasih-Nya, Tuhan Yesus rela disalibkan untuk membuka jalan melalui pintu tirai bagi kita. Sehingga kita mendapatkan jalan masuk melalui pintu tirai menuju ke ruangan mahasuci yang merupakan persekutuan nikah gereja Tuhan dengan Tuhan Yesus. Dikatakan dalam Filipi 3:19-21, tubuh kita yang hina akan diubahkan menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, dengan kata lain tubuh kita diubahkan menjadi sempurna sebagai mempelai perempuan-Nya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah, kita harus mau rendah hati dan menjadi "kecil” untuk dapat masuk melalui pintu yang sempit. Melalui pintu yang sempit bagaikan ada tiga tahapan yang harus kita jalani. Pertama, bagaikan masuk melalui pintu gerbang Tabernakel, kita yang dulu tidak percaya dan tidak mengenal Yesus dapat percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan disebut sebagai orang Kristen. Kedua, bagaikan masuk melalui pintu kemah, kita bukan hanya bangga sebagai orang Kristen tetapi harus meningkat menjadi jemaat dalam arti melaksanakan tiga ibadah pokok sesuai dengan tiga alat yang ada di ruangan suci. Ketiga, bagaikan masuk melalui pintu tirai menuju ke ruangan mahasuci. Jika kita sudah sebagai jemaat, itu pun belum cukup. Kita harus meningkat lagi, melalui perobekan daging, mengenal Tuhan Yesus sebagai Mempelai Pria Sorga, bahkan kehidupan kita diubahkan untuk kelak menjadi tubuh sempurna, serupa dengan tubuh Yesus, sempurna tanpa cacat dan cela.

Suatu berkat rohani yang luar biasa yang kita dapatkan melalui Pengajaran Mempelai Alkitabiah, mata kita dicelikkan mengerti rahasia Firman Tuhan. Marilah kita berjuang untuk masuk melalui pintu yang sempit itu. Namun sekali lagi yang harus kita ingat dan perhatikan adalah kita harus rendah hati. Amin. wy



Post a comment